spot_img
BerandaPeristiwaBertandang ke MUI Makassar, LDII Nyatakan Diri Tidak Terkait Islam Jamaah

Bertandang ke MUI Makassar, LDII Nyatakan Diri Tidak Terkait Islam Jamaah

MUIMAKASSAR.OR.ID, MAKASSAR – Para pengurus baru Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kota Makassar bertandang ke Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Makassar, Rabu 25 Oktober 2023. Mereka datang untuk menyosialisasikan kedudukan dan perkembangan terbaru organisasi LDII.

Kedatangan pengurus DPD LDII Makassar itu diterima Ketua Umum MUI Kota Makassar, AG. Syekh Dr. Baharuddin, HS, MA  bersama Sekretaris Dr. KH. Masykur Yusuf, M.Ag dan para pengurus lainnya. Pertemuan yang diisi dengan diskusi soal perjalanan organisasi LDII itu berlangsung hangat. 

“Kami sampaikan bahwa kami telah menerima undangan pelantikan saudara-saudara dari LDII. Kemudian, saya konfirmasi ke MUI Sulsel, dan selanjutnya MUI Sulsel konfirmasi ke MUI Pusat. Hanya saja sampai saat ini belum ada keterangan. Jadi mohon maaf, saya tidak hadir. Tetapi ketika saudara datang kantor MUI, tentu kami akan terima sebagai tamu,” kata AGH Baharuddin, saat memberi sambutan selamat datang. 

Menurut AGH Baharuddin, belum adanya restu dari MUI Pusat menandakan masih ada yang perlu dibenahi dalam organisasi LDII. Dalam pertemuan itu, memang mengemuka sejumlah pendapat tentang status LDII.

Sejumlah pengurus MUI Makassar menyampaikan pendapat yang berkembang di masyarakat dimana masih ada yang beranggapan bahwa LDII merupakan reinkarnasi dari kelompok Islam Jamaah. Sementara kelompok Islam Jamaah telah dinyatakan oleh pemerintah sebagai aliran sesat.

“Sebaiknya LDII berjuang untuk menjelaskan hal ini kepada MUI Pusat sehingga dapat memperoleh pernyataan tertulis bahwa LDII tidak terkait dengan Islam Jamaah yang dinyatakan sebagai organisasi terlarang,” tandaa AGH. Baharuddin. 

Ketua LDII Makassar, Asdar Mattiro, membantah LDII sebagai reinkarnasi Islam Jamaah atau menganggap  orang Islam yang tidak masuk barisan LDII sebagai orang kafir atau najis. Menurutnya, salatnya orang LDII dan ibadah lainnya sama dengan orang Islam pada umumnya. 

“Jadi tidak benar anggapan bahwa tempat salat yang ditinggalkan orang yang bukan LDII adalah najis, sehingga harus dicuci. Kalau masjid dicuci terus setiap habis dipakai oleh orang yang bukan LDII maka basah terus masjid,” katanya.

Asdar menjelaskan bahwa masjid-masjid LDII terbuka untuk umum.  Kajian-kajian yang dilakukan LDII juga terbuka untuk masyarakat umum, siapa saja.

Menurut dia, anggapan LDII tersambung dengan Islam Jamaah karena memang pernah menerima santri-santri dari kelompok Islam Jamaah ketika kelompok  Islam Jamaah dinyatakan sebagai aliran sesat. “Pimpinan kelompok  Islam Jamaah datang ke ketua umum LDII minta agar santrinya dibina di LDII. Sehingga itulah, orang menganggap LDII sama dengan Islam jamaah beraliran sesat. Padahal LDII hanya membina santri mereka,” jelas Asdar memberi klarifikasi.

Meski demikian, MUI Makassar tetap meminta pihak LDII agar berusaha mendapatkan pengakuan melalui MUI Pusat. LDII juga diharapkan bisa menunjukkan bukti dokumen pengakuan dari pemerintah yaitu dari Kementerian Hukum dan HAM RI.

“Jadi kalau sudah ada pengakuan dari MUI Pusat, pasti akan ditembuskan ke MUI di daerah. Saya sarankan, LDII tidak perlu menyatakan diri ormas, tetapi sesuai namanya saja sebagai lembaga dakwah,” kata KH. Masykur Yusuf. 

Di Makassar, Asdar mengklaim memiliki 10 ribuan jamaah dan sekitar 30 masjid. Selain itu, LDII juga membina pondok pesantren yaitu Pondok Babussalam di Tamalamrea. (*)

LAINNYA

KOTA MAKASSAR

Subuh
Terbit
Dhuha
Dzuhur
Ashar
Maghrib
Isya

TERBARU

Open chat
Assalamualaikum,
Silahkan Ajukan Pertanyaan Di Menu Tanya Ulama