spot_img
BerandaPeristiwaKetua Masjid Jogokariyan: Kita Butuh Jamaah Masjid, Bukan Sekadar Jamaah Salat

Ketua Masjid Jogokariyan: Kita Butuh Jamaah Masjid, Bukan Sekadar Jamaah Salat

MUIMAKASSAR.OR-ID, Makassar – Ketua Dewan Syuro Takmir Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, K.H.Muhammad Jazir, ASP, menyebut, pengelolaan masjid-masjid di Indonesia masih berorientasi jamaah salat, belum berorientasi jamaah masjid.

Pernyataan itu ia sampaikan saat membawakan pengajian magrib di Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf Makassar, Sulawesi Selatan, Ahad, 18 Juni 2023. Kedatangan Kyai Jazir di Masjid Al-Markaz disambut antuasias jamaah. Masjid Jogokariyan Yogyakarta sendiri sangat populer sebagai masjid percontohan manajemen masjid.

Tampak hadir mengikuti pengajian tersebut, antara lain Ketua Umum YIC Al-Markaz Al-Islami Prof.Dr. Basri Hasanuddin, Imam Besar Masjid Al-Markaz Prof.Dr.Muammar Bakry, sejumlah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Makassar dan Sulawesi Selatan dan pengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sulawesi Selatan.

Kyai Jazir menuturkan, disebut jamaah salat ketika hanya datang melaksanakan salat jamaah. Di antara jamaah yang satu dengan jamaah lainnya tidak saling mengenal. Semestinya, kata dia, yang dibangun adalah jamaah masjid, dimana seorang imam mengenal seluruh jamahnya. Di antara jamaah juga saling mengenal dengan baik, bukan sekadar nama belaka.

Diceritakannya, Rasulullah itu setiap selesai memimpin salat, ketika bacaan wiridnya sampai Allahumma antassalam waminkassalam, Rasulullah itu melihat ke jamaah. Rasulullah itu melihat siapa yang hadir dan yang tidak hadir. Kemudian yang tidak hadir salat itu akan dikunjungi rasulullah kalau tidak memberi kabar.

“Masjid itu tempat mengurus umat. Sekarang di masjid-masjid kita ini baru ada jamaah salat, imamnya adalah imam salat, bukan imam masjid. Maksudnya apa kita salat ini, satu sama lain saling kenal apa enggak. Enggak kan? Itu namanya jamaah salat, belum jamaah masjid,” katanya.

Padahal, tambahnya, jika yang dibangun adalah jamaah masjid bukan sekadar jamaah salat, maka di situlah kunci kemaslahatan umat. Jamaah salat saja tidak bisa menyelesaikan problem-problem jamaah.

Sebab Jama’ah yang hadir salat, adalah dari beragam potensi seperti orang perbankan, pengusaha, arsitek, dokter, pedagang dan sebagainya. Kyai jazir yang juga Ketua KMP Nasional itu menegaskan, betapa besar potensi umat Islam jika berbagai potensi yang dimiliki jamaah salat disatukan dan menjadi jamaah masjid.

“Ini luar biasa, kalau kemudian ada seorang imam masjid yang menyatukan mereka di dalam menyelesaikan persoalan jamaah itu. Namun orang-orang hebat yang berjamaah itu tidak ada gunanya dalam konteks lingkungannya kurang sekali bermanfaat dan karena tidak ada imamnya, hanya imam salat saja,” tandas Kyai Jazir.

Ia menyatakan, jumlah umat Islam yang banyak ini belum signifikan untuk membangun kesejahteraan dan kekuatan muslim. “Dalam ekonomi kita nggak ada berjamaah sama sekali, sehingga jumlah muslim yang banyak ini tidak berdampak pada kesejahteraan kaum muslimin secara ekonomi,” katanya.

Apalagi kalau melihat dalam bidang politik, tambah Yasir, sama sekali tidak ada hitungannya. Orang Islam tidak pernah dihitung dalam politik itu, kecuali hanya menyumbang suara. Akhirnya, umat Islam hanya menjadi barang dagangan setiap lima tahun,” tegas Kyai Yazir. (#)

LAINNYA

KOTA MAKASSAR

Subuh
Terbit
Dhuha
Dzuhur
Ashar
Maghrib
Isya

TERBARU

Open chat
Assalamualaikum,
Silahkan Ajukan Pertanyaan Di Menu Tanya Ulama