spot_img
BerandaOpiniHaji Mabrur

Haji Mabrur

Oleh : Abdul Rauf, Ketua MUI Kecamatan Biringkanaya

MUIMAKASSAR.OR.IR, Makassar – Semua jemaah haji menginginkan hajinya menjadi haji mabrur yaitu haji yang diterima oleh Allah swt. Haji yang sempurna, haji yang memberi berkah dalam kehidupan setelah seseorang telah melaksanakan rukun terakhir dari rukun-rukun islam yang lima.

Tentu saja, haji mabrur tidak begitu saja diperoleh oleh semua orang yang melaksanakan ibadah haji. Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan terkait pelaksanaan haji mulai dari persiapan, pelaksanaan dan bahkan pasca haji sehingga ibadah haji disebut mabrur. Menurut hemat saya, minimal, haji yang mabrur itu dapat dilihat dari tiga aspek:

Pertama, haji disebut mabrur jika haji dilaksanakan dengan biaya/uang yang halal.

Nabi SAW dalam satu riwayat menyebutkan:

إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ حَاجًّا بنفَقَةٍ طَيِّبَةٍ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ فِي الْغَرْزِ، فَنَادَى: لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، نَادَاهُ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، زَادُكَ حَلالٌ، وَرَاحِلَتُكَ حَلالٌ، وَحَجُّكُ مَبْرُورٌ غَيْرُ مَأْزُورٍ، وَإِذَا خَرَجَ بِالنَّفَقَةِ الْخَبِيثَةِ، فَوَضَعَ رِجْلَهُ فِي الْغَرْزِ، فَنَادَى: لَبَّيْكَ، نَادَاهُ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ: لا لَبَّيْكَ وَلا سَعْدَيْكَ، زَادُكَ حَرَامٌ وَنَفَقَتُكَ حَرَامٌ، وَحَجُّكَ غَيْرُ مَبْرُورٍ

Artinya: “Apabila seseorang keluar untuk melaksanakan haji dengan nafkah yang halal dan menapakkan kakinya di atas kendaraannya  kemudian berucap: Ya Allah aku datang memenuhi panggilan-Mu, memangillah malaikat dari langit: kedatanganmu diterima dan amalmu diterima. Bekalmu halal, kendaraanmu halal dan hajimu mabrur (diterima) dan bukan palsu. Dan apabila seseorang keluar untuk melaksanakan haji dengan nafkah yang kotor/haram dan menapakkan kakinya di tanah kemudian berucap: Ya Allah aku datang memenuhi panggilan-Mu, memangillah malaikat dari langit: kedatanganmu ditolak dan amalmu tidak diterima, bekalmu haram dan nafkahmu haram dan hajimu tidak mabrur.” (HR. Tabrani)

Oleh karena itu, siapapun yang akan menunaikan ibadah haji harus memastikan 100 % dan kalau perlu 1000 %, bahwa uang, nafkah yang dipakai membiayai perjalanan hajinya semuanya berasal dari harta yang halal.

Kedua, haji mabrur adalah haji yang tidak ada dosa selama pelaksanaannya.

Ketika Rasulullah SAW menyebutkan bahwa:

الحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إلاَّ الجَنَّةَ

“Haji yang mabrur itu tiada balasannya kecuali surga”, para sahabat bertanya: Bagaimana cara memabrurkan haji? Nabi bersabda: “Memberi makan, menjaga (memperbaiki) perkataan dan menyebarkan salam” (HR. Tabrani)

Allah berfirman:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

Artinya: (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (berkata, keji, kotor, cabul), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. (Al Baqarah: 197)

Nabi juga bersabda:

من حج ولم يرفث ولم يفسق خرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه

Artinya: “Barang siapa yang berhaji kemudian tidak berkata-kata keji, tidak berbuat fasik, dia akan keluar dari dosa-dosanya seperti bayi yang dilahirkan oleh ibunya (bersih dari dosa).” (HR. Tirmidzi).

Maka ketika seseorang melaksanakan ibadah haji dia harus menjaga perangainya terutama lidahnya dari semua yang diharamkan oleh Allah SWT.

Aspek ketiga, haji mabrur adalah haji yang disempurnakan rukun, wajib, syarat, dan sunnatnya dan pada saat yang sama menyelami hikmah yang terkandung di dalam setiap amalan haji secara lahir dan batin.

Jumhur ulama menyebutkan bahwa siapapun yang berhaji dengan sempurna, dalam artian melaksanakan seluruh amalan haji dengan sempurna menunaikan rukun, wajib, sunnat dan syarat-syaratnya dengan sempurna maka hajinya adalah haji yang mabrur.

Akan tetapi, menurut Ali Zainal Abidin, haji yang sempurna – mabrur – adalah haji yang secara lahir sempurna juga secara hikmah, aspek batin dan hakikat sempurna pula. Tersebutlah Al Imam Asy-Syibli, seorang murid Imam Ali Zainal ‘Abidin. Setelah selesai menunaikan ibadah ibadah haji, ia segera menemui Ali untuk menyampaikan pengalaman hajinya. Terjadilah percakapan panjang di antara mereka berdua. Saya kutipkan beberapa penggalan sebagai berikut:

“Wahai Syibli, bukankah engkau telah selesai menunaikan ibadah haji?” tanya Ali. Ia menjawab, “Benar, wahai Guru.”

Selanjutnya, Ali bertanya, “Apakah engkau menyentuh Hajar Aswad dan shalat di Maqam Ibrahim?”

Dijawabnya, “Benar.”

Mendengar jawaban itu, Ali Zainal ‘Abidin menangis, seraya berucap, “Oooh, barangsiapa berjabat tangan dengan Hajar Aswad, seakan ia berjabat tangan dengan Allah. Maka ingatlah, janganlah sekali-kali engkau menghancurkan kemuliaan yang telah diraih, serta membatalkan kehormatanmu dengan aneka dosa!”

Zainal Abidin bertanya lagi: “Apakah engkau telah Wukuf di Arafah, mendaki Jabal Rahmah, mengunjungi Wadi Namirah, serta memanjatkan do’a-do’a di bukit Shakhraat?”

“Benar, seperti itu.”

“Ketika Wukuf di Arafah, apakah engkau menghayati kebesaran Allah, serta berniat mendalami ilmu yang dapat mengantarkanmu kepadaNya? Apakah ketika itu engkau merasakan kedekatan yang demikian dekat denganmu? Ketika mendaki Jabal Rahmah, apakah engkau mendambakan Rahmat Allah bagi setiap Mukmin?

Ketika berada di Wadi Namirah, apakah engkau berketetapan hati untuk tidak meng-amar-kan yang ma’ruf, sebelum engkau meng-amar-kannya pada dirimu sendiri? Serta tidak melarang seseorang melakukan sesuatu sebelum engkau melarang diri sendiri? Ketika berada di antara bukit-bukit sana, apakah engkau sadar bahwa tempat itu akan menjadi saksi segala perbuatanmu?”

“Tidak.” Jawab As Syibli

“Kalau begitu, engkau tidak wukuf di Arafah, tidak mendaki Jabal Rahmah, tidak mengenal Wadi Namirah, tidak pula berdo’a di sana!

Ali Zainal ‘Abidin melanjutkan, “Ketika engkau sampai di Mina, apakah engkau yakin telah sampai di tujuan dan Tuhanmu telah memenuhi semua hajatmu? Ketika melempar Jumrah, apakah engkau meniatkan untuk melempar dan memerangi iblis, musuh besarmu? Ketika mencukur rambut (tahallul), apakah engkau bertekad untuk mencukur segala kenistaan?

Ketika shalat di Masjid Khaif, apakah engkau bertekad untuk tidak takut, kecuali kepada Allah dan tidak mengharap rahmat kecuali dari-Nya semata? Ketika memotong hewan kurban, apakah engkau bertekad untuk memotong urat ketamakan; serta mengikuti teladan Ibrahim yang rela mengorbankan apapun demi Allah? Ketika kembali ke Mekkah dan melakukan Thawaf Ifadhah, apakah engkau meniatkannya untuk berifadhah dari pusat rahmat Allah, kembali dan berserah kepadaNya?”

Dengan gemetar, Asy-Syibli menjawab, “Tidak, wahai Guru.”

“Sungguh, engkau tidak mencapai Mina, tidak melempar Jumrah, tidak bertahallul, tidak menyembelih kurban, tidak manasik, tidak shalat di Masjid Khaif, tidak Thawaf Ifadhah, tidak pula mendekat kepada Allah! Kembalilah, kembalilah! Sesungguhnya engkau belum menunaikan hajimu!”

Asy-Syibli menangis tersedu, menyesali ibadah haji yang telah dilakukannya. Sejak itu, ia giat memperdalam ilmunya, serta berdoa semoga tahun berikutnya ia kembali berhaji dengan ma’rifat serta keyakinan penuh.

Penggalan kisah Ali Zainal Abidin (cicit Rasulullah SAW) dan muridnya  As-Syibli tadi, menunjukkan betapa pentingnya memperhatikan aspek penghayatan, hikmah dan pilosofi dari setiap amalan ibadah haji untuk menggapai haji yang mabrur. Jadi bukan sekedar amalan lahirnya saja yang diperhatikan akan tetapi penghayatan hakikatnya sangat ditekankan pula.

Semoga, semua jemaah haji yang berhaji tahun ini selamat dalam perjalannya, sehat wal afiat sampai ke tanah suci serta mampu menyelesaikan seluruh rangkaian ibada haji dengan sebaik-baiknya, mengetahui hakikat dan makrifat amalan-amalan haji sebagaimana yang disebutkan Ali Zainal Abidin kepada muridny As Syibli.

Dan semoga pula mereka kembali kepada keluarganya dengan selamat, sehat wal afiat dengan membawa haji yang mabrur. Dan semoga pula, semua yang belum berangkat tahun ini, diberi rezki yang lapang, umur panjang, dan kesehatan lahir dan batin sehingga mampu menunaikan ibadah haji di tahun-tahun yang akan datang.

Labbaika Allahumma Labbaik!!!

LAINNYA

KOTA MAKASSAR

Subuh
Terbit
Dhuha
Dzuhur
Ashar
Maghrib
Isya

TERBARU

Open chat
Assalamualaikum,
Silahkan Ajukan Pertanyaan Di Menu Tanya Ulama